Minggu, 18 November 2007

Minggu, 30 September 2007

Gagap Pada Anak, Tips Untuk Orang Tua
Apakah gagap itu? Gagap adalah suatu gangguan kelancaran berbicara. Anak usia 2 sampai 5 tahun sering mengulang-ulang kata-kata atau bahkan seluruh kalimat yang diucapkan kepadanya. Ia kadang-kadang juga mengucapkan ungkapan-ungkapan seperti “ee” atau “mm” saat ia berbicara. Hal ini dianggap normal bila terjadi pada anak yang masih belajar berbicara.

Anak pada golongan usia tersebut masih mempelajari cara berbicara, mengembangkan kendali terhadap otot-otot berbicaranya, mempelajari kata-kata baru, menyusun kata-kata dalam suatu kalimat, dan mempelajari bagaimana cara bertanya serta mempelajari “akibat” dari kata-kata yang mereka ucapkan. Oleh karena itu, anak pada golongan usia tersebut umumnya masih mengalami gangguan kelancaran berbicara.

Apakah Penyebab Gagap?
Banyak orang tua yang merasa bahwa gagap disebabkan oleh cara mendidik anak atau pola pengasuhan orang tua yang salah. Tetapi menurut para ahli, gagap tidak disebabkan oleh perilaku orang tua. Kenyataannya, penyebab gagap sampai saat ini belum dapat dijelaskan secara pasti. Gagap merupakan suatu keadaan yang sangat rumit dan banyak berkaitan dengan hal-hal lain.
Anak laki-laki lebih banyak mengalami gagap dari pada anak perempuan dengan perbandingan tiga banding satu. Hal ini berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan, seperti stres.

Tanda-Tanda Awal
Umumnya tanda-tanda awal kegagapan terlihat pada usia dua tahun atau pada saat anak mulai belajar merangkai kata-kata menjadi suatu kalimat. Sering kali orang tua merasa jengkel dengan kegagapan anak, tetapi hal ini merupakan hal yang umum ditemui saat anak masih dalam tahap perkembangan berbicara. Kesabaran merupakan sikap terpenting yang harus dimiliki oleh orang tua selama anak berada dalam tahap ini. Seorang anak mungkin mengalami gangguan kelancaran berbicara selama beberapa minggu atau bulan dengan gejala yang hilang timbul. Sebagian besar anak akan lancar berbicara dan tidak akan gagap lagi bila kegagapannya itu dimulai pada usia kurang dari 5 tahun.

Anak Usia Sekolah
Saat anak mulai memasuki usia sekolah, kemampuan dan keterampilan berbicaranya akan semakin terasah. Umumnya anak akan semakin lanca berbicara dan ia sudah tidak gagap lagi. Jika ia masih gagap, umumnya pada usia tersebut ia sudah mulai merasa malu akan hal tersebut. Anak seperti ini membutuhkan latihan khusus untuk membantunya dalam berkomunikasi.

Bantuan Yang Diperlukan
Seorang anak sebaiknya mulai mendapat bantuan khusus bila:
- orang tua mulai merasa khawatir akan kelancaran berbicara anaknya
- anak terlalu sering mengulang kata-kata atau bahkan seluruh kalimat
- pengulangan suara-suara seperti “aa” semakin sering diucapkannya
- anak tampak kesulitan saat akan berbicara
- gangguan kelancaran berbicaranya semakin berat
- mimik muka anak tampak tegang saat berbicara
- suara anak terdengar tegang saat mengucapkan kata-kata bernada tinggi
- anak sering menghindari keadaan dimana ia harus berbicara
Jika ada tanda-tanda diatas yang tampak saat anak berbicara maka sebaiknya orang tua mulai menghubungi dokter atau ahli terapi bicara. Semakin dini bantuan yang diberikan kepada seorang anak maka semakin baik pula hasil yang akan diperoleh.

Apa Yang Dapat Dilakukan Oleh Orang Tua?
Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk menciptakan suatu suasana yang membantu bagi seorang anak:
- Jangan menyuruh anak untuk selalu berbicara dengan tata bahasa yang benar. Biarkan anak untuk berbicara dengan nyaman dan menyenangkan.
- Manfaatkan waktu makan bersama untuk melatih kelancaran berbicara anak. Hindari hal-hal lain yang mungkin mengganggu seperti televisi atau radio.
- Jangan selalu mengkritik anak dengan ucapan seperti “pelan-pelan saja” atau semacamnya. Komentar semacam ini, walaupun diucapkan dengan niat baik, hanya akan membuat anak merasa semakin tertekan.
- Ijinkan anak untuk berhenti berbicara jika ia merasa tidak nyaman.
- Jangan menyuruh anak untuk mengulangi kata-katanya.
- Jangan selalu menyuruh anak untuk berhati-hati dalam berbicara.
- Ciptakan suasana yang tenang di rumah.
- Berbicaralah dengan pelan dan jelas kepada anak.
- Tataplah mata anak bila berbicara dengannya. Jangan melihat kearah lain dan jangan pula menunjukkan kekecewaan anda didepan anak.
- Biarkan anak berbicara dan mengucapkan kalimatnya sampai selesai.
- Yang paling penting adalah: seringlah berlatih! Jadilah contoh yang baik bagi anak dengan selalu berbicara dengan jelas.

(cfs/kidshealth.org)
Sakit Kepala Pada Anak-Anak
Anak anda mengeluh soal sakit kepala dan anda kadang-kadang merasa bingung apakah keluhan anak anda benar-benar serius atau tidak. Bagaimana anda mengetahui apa sebenarnya penyebab keluhannya tersebut? Apakah keluhannya tersebut benar-benar mengkhawatirkan? Sakit kepala apakah yang dialami oleh anak anda dan bagaimanakah langkah yang sebaiknya anda lalukan?

Kapan Anda Sebaiknya Mewaspadai Keluhan Sakit Kepala Anak?
Bila anda menganggap anak anda terlalu sering mengeluh soal sakit kepala atau anda tidak mengetahui penyebab sakit kepala anak anda maka anda harus mewaspadai keluhannya tersebut. Sering kali, sebenarnya anda mengetahui penyebab sakit kepala pada anak anda seperti sakit kepala karena kurang istirahat (tidur) atau karena kepalanya baru saja terbentur sesuatu saat bermain. Tetapi bila anak anda mengalami sakit kepala yang penyebabnya tidak jelas atau sakit kepala yang terjadi berulang-ulang dan singkat maka anda harus segera waspada. Yang menjadi pertanyaan adalah, berapa lamakah yang dimaksud dengan “singkat” tersebut?

Menurut beberapa ahli jika anak anda yang berusia 6 tahunan mengeluhkan soal sakit kepala yang tidak jelas penyebabnya, sebanyak paling tidak sekali sebulan, dalam beberapa bulan, maka sebaiknya anda segera mengunjungi dokter. Sedangkan bila hal ini terjadi pada anak remaja anda maka anda tidak perlu terlalu khawatir.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah ada tidaknya gejala lain yang menyertai sakit kepala. Gejala lain misalnya keadaan kesehatan anak saat itu. Gejala-gejala yang harus diwaspadai oleh orang tua bila anaknya mengeluhkan soal sakit kepala antara lain:
- menurunnya tingkat kesadaran anak
- muntah
- perubahan penglihatan
- rasa tidak enak badan
- rasa lemas
- demam atau tanda-tanda lain infeksi

Anak Dan Keluhan Sakit Kepalanya
Umumnya, anak mengalami jenis sakit kepala yang sama seperti jenis sakit kepala yang sering dialami oleh orang dewasa. Infeksi pada tubuh dapat menyebabkan terjadinya sakit kepala; begitu pula obat-obatan golongan tertentu yang ia konsumsi juga dapat menyebabkan sakit kepala.

Ada berbagai hal paling mungkin yang dapat menyebabkan terjadinya sakit kepala. Pada anak-anak kecil, lubang pada gigi, infeksi telinga dan infeksi pada sinus atau yang biasa disebut dengan sinusitis (infeksi pada rongga dalam tengkorak) dapat menyebabkan suatu perasaan nyeri yang sering dikeluhkan sebagai sakit kepala oleh anak. Anak-anak juga dapat mengalami migrain dan sakit kepala karena ketegangan otot (tension headache).

Rasa berdenyut-denyut pada sakit kepala karena migrain dapat dikeluhkan anak-anak bahkan pada usia sangat muda. Jika anda memiliki seorang bayi atau balita, kemungkinannya sangat kecil anda akan dapat mengetahui bila ia sedang mengalami migrain karena anak seusia ini belum dapat menggambarkan sakit kepalanya kepada anda.

Pada anak-anak yang lebih tua dan remaja, sakit kepala karena migrain umumnya mudah dikenali karena ia sudah dapat menggambarkan sakit kepalanya tersebut. Ia dapat mengalami migrain dengan atau tanpa aura. Aura adalah suatu gejala yang umumnya timbul sebelum nyeri dirasakan. Biasanya merupakan suatu gejala visual dimana ia merasa seperti melihat cahaya terang yang kemudian diikuti dengan melihat titik hitam ditengah lapangan pandangnya.

Penanganan Sakit Kepala Anak
Penanganan sederhana dapat anda lakukan di rumah. Mintalah anak untuk berbaring di ruangan yang sejuk dan gelap serta berilah anak anda obat sakit kepala semacam parasetamol.

Bila anda membawa anak anda mengunjungi dokter, dokter umumnya akan menanyakan tentang riwayat penyakitnya itu untuk membantu dokter dalam menentukan jenis penyakit serta perawatan yang dibutuhkan. Oleh karena itu, ingat-ingatlah hal-hal penting yang berkaitan dengan keluhan sakit kepala anak anda. Pertanyaan yang sering diajukan antara lain tentang beratnya dan kekerapan keluhan sakit kepala anak anda, begitu pula tentang pola keluhan sakit kepalanya. Dokter juga akan menanyakan apa yang dapat menyebabkan sakit kepalanya bertambah berat atau bertambah ringan. Jawaban-jawaban yang diberikan akan membantu memastikan dokter dalam menentukan penyakit anak, terutama bila anak mengalami sakit kepala karena migrain. Sakit kepala karena migrain sendiri biasanya disebabkan oleh hal-hal seperti stres, kurang istirahat (tidur), atau makanan dan minuman tertentu.

Dokter umumnya juga akan memeriksa keseluruhan fisik anak anda. Gangguan pada bagian tubuh tertentu dapat menyebabkan sakit kepala.

Umumnya sakit kepala yang paling sering dialami oleh anak-anak adalah sakit kepala karena migrain dan sakit kepala karena ketegangan otot. Bila sakit kepalanya merupakan sakit kepala karena migrain maka dokter akan menjelaskan apa-apa saja yang dapat memicu terjadinya migrain tersebut dan kemudian meresepkan obat-obatan golongan analgesik (penghilang nyeri).

Sedangkan bila anak anda mengalami sakit kepala kronik maka biasanya dokter akan memberikan resep obat yang dapat mecegah terjadinya sakit kepala.

Anak yang mengalami sakit kepala karena ketegangan otot biasanya menggambarkan sakit kepalanya itu sebagai suatu rasa nyeri yang menekan di kepala. Sakit kepala jenis ini dapat diobati dengan obat-obatan seperti parasetamol.

Hal penting yang harus diingat adalah anda sebaiknya berkonsultasi dahulu dengan dokter sebelum anda memberikan obat-obatan tertentu untuk mengatasi sakit kepala anak anda. Dokter akan membantu obat apa yang cocok diberikan untuk anak anda. Biasanya relaksasi dan pengurangan stres dapat membantu mengatasi sakit kepala anak.
(cfs/kidshealth.org)



Copyright © OpenUrika 2006 Inc. Design and Programmer by Hanny Wijaya
Kejang Pada Anak

Kejang disebabkan oleh pelepasan hantaran listrik yang abnormal di otak. Gejala-gejala yang timbul dapat bermacam-macam tergantung pada bagian otak yang terpengaruh, tetapi umumnya kejang berkaitan dengan suatu sensasi “aneh”, kekakuan otot yang tidak terkendali, dan hilangnya kesadaran.

Kejang dapat terjadi akibat adanya kelainan medis. Rendahnya kadar gula darah, infeksi, cedera kepala, keracunan, atau overdosis obat-obatan dapat menyebabkan kejang. Selain itu, kejang juga dapat disebabkan oleh tumor otak atau kelainan saraf lainnya. Kurangnya oksigen ke otak juga dapat menyebabkan kejang. Pada beberapa kasus, penyebab kejang mungkin tidak diketahui. Kejang yang terjadi berulang mungkin merupakan suatu indikasi akan adanya suatu kondisi kronik yang dikenal sebagai epilepsi.

Kejang demam merupakan kejang yang cukup sering dijumpai pada anak-anak yang berusia dibawah 5 tahun. Kejang demam dapat timbul bila seorang anak mengalami demam tinggi, biasanya suhu tubuh meningkat dengan cepat mencapai 39 derajat Celsius atau lebih. Walaupun hal ini sangat mengkhawatirkan bagi orang tua, kejang seperti ini umumnya terjadi singkat dan jarang menimbulkan masalah, kecuali bila demam yang terjadi berkaitan dengan infeksi serius seperti meningitis. Anak yang mengalami kejang demam tidak mempunyai kecenderungan untuk mengalami epilepsi.

Apa Yang harus Dilakukan
Anak yang mengalami kejang harus dibaringkan di tempat yang aman agar tidak ada kemungkinan jatuh. Jauhkan benda-benda disekitarnya agar tidak mengganggu. Longgarkan pakaiannya di sekitar kepala dan leher. Hati-hati bila memasukkan benda-benda di antara gigi anak karena benda tersebut dapat masuk dan membuntu jalan nafas anak. Jangan menahan gerakan-gerakan anak seperti memegangi tangan atau kakinya. Segera miringkan anak apabila kejang telah berhenti.
Selain itu segera hubungi dokter terutama bila:
- anak tampak kesulitan bernafas
- anak tampak berwarna kebiruan
- anak mengalami cedera pada kepalanya
- anak tampak sakit
- anak memiliki suatu penyakit bawaan yang mungkin membahayakan seperti kelainan jantung
- anak sebelumnya dicurigai telah menelan zat-zat tertentu yang dapat menyebabkan keracunan

Jika anak tampak bernafas dengan normal dan kejang hanya terjadi beberapa menit saja, anda dapat menghubungi dokter setelah kejang selesai. Jika seorang anak baru sekali mengalami kejang, segera hubungi dokter bila hal ini terjadi. Sedangkan bila seorang anak sebelumnya pernah mengalami kejang, hubingi dokter bila kejang terjadi lebih dari 5 menit, atau bila kejang yang timbul lain dari kejang yang biasanya timbul.

Umumnya setelah kejang, anak akan tidur dengan “nyenyak”. Periode ini merupakan suatu periode yang dikenal sebagai periode postictal. Hal ini merupakan hal yang normal, dan sebaiknya anak tidak usah berusaha dibangunkan. Jangan memberikan makan atau minum kepada anak bila anak belum benar-benar terbangun dan sadar.

Bila anak memang dinyatakan mengalami kejang demam oleh dokter, umumnya dokter akan menyarankan agar anak diberi obat penurun panas bila anak demam agar demam dapat terkendali sehingga kejang dapat dicegah. Selain itu, dokter juga akan menyarankan untuk mengkompres anak dengan kain basah untuk membantu mendinginkan anak.
(cfs/kidshealth.org)

Jumat, 21 September 2007

Leptospirosis pada Manusia

Salah satu penyakit yang dapat terjadi paska banjir adalah leptospirosis. Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang dapat menyerang manusia dan binatang. Penyakit menular ini adalah penyakit hewan yang dapat menjangkiti manusia. Termasuk penyakit zoonosis yang paling sering terjadi di dunia. Leptospirosis juga dikenal dengan nama flood fever atau demam banjir karena memang muncul dikarenakan banjir. Di beberapa negara leptospirosis dikenal dengan nama demam icterohemorrhagic, demam lumpur, penyakit Stuttgart, penyakit Weil, demam canicola, penyakit swineherd, demam rawa atau demam lumpur.

Penyakit ini disebabkan bakteri leptospira berbentuk spiral yang mempunyai ratusan serotipe. Bakteri leptospira bisa terdapat di genangan air saat iklim panas dan terkontaminasi oleh urine binatang. Leptospirosis dapat menyerang manusia akibat kondisi seperti banjir, air bah, atau saat air konsumsi sehari-hari tercemar oleh urine hewan.

Penemuan penderita sering tidak optimal karena sering terjadi “underdiagnosis” atau misdiagnosis. Hal ini berakibat keterlambatan tatalaksana penderita yang dapat memperburuk prognosis. Meskipun sebenarnya penyakit ini pada umumnya mempunyai prognosis yang baik.

ETIOLOGI
Leptospirosis disebabkan bakteri pathogen berbentuk spiral termasuk genus Leptospira, famili leptospiraceae dan ordo spirochaetales. Spiroseta berbentuk bergulung-gulung tipis, motil, obligat, dan berkembang pelan secara anaerob. Genus Leptospira terdiri dari 2 spesies yaitu L interrogans yang merupakan bakteri patogen dan L biflexa adalah saprofitik.

Beberapa penelitian terakhir berdasarkan temuan DNA diidentifikasi 7 species patogen yang tampak pada lebih 250 varian serologi (serovars). Leptospira dapat menginfeksi sekurangnya 160 spesies mamalia diantaranya adalah tikus, babi, anjing, kucing, rakun, lembu, dan mamalia lainnya. Hewan peliharaan yang paling berisiko mengidap bakteri ini adalah kambing dan sapi. Setiap hewan berisiko terjangkit bakteri leptospira yang berbeda-beda. Resevoar paling utama adalah binatang pengerat dan tikus adalah yang paling sering ditemukan di seluruh belahan dunia. Di Amerika yang paling utama adalah anjing, ternak, tikus, binatang buas dan kucing. Berberapa serovar dikaitkan dengan beberapa binatang, misalnya L pomona and L interrogans terdapat pada lembu dan babi, L grippotyphosa pada lembu, domba, kambing, dan tikus, L ballum dan L icterohaemorrhagiae sering dikaitkan dengan tikus dan L canicola dikaitkan dengan anjing. Beberapa serotipe yang penting lainnya adalah autumnalis, hebdomidis, dan australis.

EPIDEMIOLOGI
Dikenal pertamakali sebagai penyakit occupational pada beberapa pekerja pada tahun 1883. Pada tahun 1886 Weil mengungkapkan manifestasi klinis yang terjadi pada 4 penderita yang mengalami penyakit kuning yang berat, disertai demam, perdarahan dan gangguan ginjal. Sedangkan Inada mengidentifikasikan penyakit ini di jepang pada tahun 1916.

Penyakit ini dapat menyerang semua usia, tetapi sebagian besar berusia antara 10-39 tahun. Sebagian besar kasus terjadi pada laki-laki usia pertengahan, mungkin usia ini adalah faktor resiko tinggi tertular penyakit okupasi ini. Angka kejadian penyakit tergantung musim. Di negara tropis sebagian besar kasus terjadi saat musim hujan, di negara barat terjadi saat akhir musim panas atau awal gugur karena tanah lembab dan bersifat alkalis.

Angka kejadian penyakit Leptospira sebenarnya sulit diketahui. Penemuan kasus leptospirosis pada umumnya adalah underdiagnosed, unrreported dan underreported sejak beberapa laporan menunjukkan gejala asimtomatis dan gejala ringan, self limited, salahdiagnosis dan nonfatal. Di Amerika Serikat (AS) sendiri tercatat sebanyak 50 sampai 150 kasus leptospirosis setiap tahun. Sebagian besar atau sekitar 50% terjadi di Hawai. Di Indonesia penyakit demam banjir sudah sering dilaporkan di daerah Jawa Tengah seperti Klaten, Demak atau Boyolali. Beberapa tahun terakhir di derah banjir seperti Jakarta dan Tangerang juga dilaporkan terjadinya penyakit ini. Bakteri leptospira juga banyak berkembang biak di daerah pesisir pasang surut seperti Riau, Jambi dan Kalimantan.

Angka kematian akibat leptospirosis tergolong tinggi, mencapai 5-40%. Infeksi ringan jarang terjadi fatal dan diperkirakan 90% termasuk dalam kategori ini. Anak balita, orang lanjut usia dan penderita “immunocompromised” mempunyai resiko tinggi terjadinya kematian. Penderita berusia di atas 50 tahun, risiko kematian lebih besar, bisa mencapai 56 persen. Pada penderita yang sudah mengalami kerusakan hati yang ditandai selaput mata berwarna kuning, risiko kematiannya lebih tinggi lagi

Paparan terhadap pekerja diperkirakan terjadi pada 30-50% kasus. Kelompok yang beresiko utama adalah para pekerja pertanian, peternakan, penjual binatang, bidang agrikultur, rumah jagal, tukang ledeng, buruh tambang batubara, militer, tukang susu, dan tukang jahit. Ancaman berlaku juga bagi yang mempunyai hobi melakukan aktivitas di danau atau sungai, seperti berenang atau rafting. Penelitian menunjukkan pada penjahit prevalensi antibidi leptospira lebih tinggi dibandingkan kontrol. Diduga kelompok ini terkontaminasi terhadap binatang tikus. Tukang susu dapat terkena karena terkena pada wajah saat memerah susu. Penelitian seroprevalensi pada pekerja menunjukan antibodi positif pada rentang 8-29%.

Meskipun penyakit ini sering terjadi pada para pekerja, ternyata dilaporkan peningkatan sebagai penyakit saat rekreasi. Aktifitas yang beresiko meliputi perjalanan rekreasi ke daerah tropis seperti berperahu kano, mendaki, memancing, selancar air, berenang, ski air, berkendara roda dua melalui genangan, dan kegiatan olahraga lain yang berhubungan dengan air yang tercemar. Berkemah dan bepergian ke daerah endemik juga menambahkan resiko.

PATOFISIOLOGI DAN PATOGENESA
Penularan penyakit ini bisa melalui tikus, babi, sapi, kambing, kuda, anjing, serangga, burung, landak, kelelawar dan tupai. Di Indonesia, penularan paling sering melalui binatang tikus. Air kencing tikus terbawa banjir kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui: permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata dan hidung. Bisa juga melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi setitik urine tikus yang terinfeksi leptospira, kemudian dimakan dan diminum manusia. Urine tikus yang mengandung bibit penyakit leptospirosis dapat mencemari air di kamar mandi atau makanan yang tidak disimpan pada tempat yang aman. Sejauh ini tikus merupakan reservoir dan sekaligus penyebar utama penyebab leptospirosis. Beberapa jenis hewan lain seperti sapi, kambing, domba, kuda, babi, anjing dapat terserang leptospirosis, tetapi potensi hewan-hewan ini menularkan leptospirosis ke manusia tidak sehebat tikus. Leptospirosis tidak menular langsung dari pasien ke pasien. Masa inkubasi leptospirosis adalah dua hingga 26 hari. Sekali berada di aliran darah, bakteri ini bisa menyebar ke seluruh tubuh dan mengakibatkan gangguan khususnya hati dan ginjal.

Saat kuman masuk ke ginjal akan melakukan migrasi ke interstitium, tubulus renal, dan tubular lumen menyebabkan nefritis interstitial dan nekrosis tubular. Ketika berlanjut menjadi gagal ginjal biasanya disebabkan karena kerusakan tubulus, hipovolemia karena dehidrasi dan peningkatan permeabilitas kapiler. Gangguan hati tampak nekrosis sentrilobular dengan proliferasi sel Kupffer, ikterus terjadi karena disfunsi hepatocellular.

Leptospira juga dapat menginvasi otot skletal menyebabkan edema, vacuolisasi miofibril, dan nekrosis focal. Muscular Gangguan sirkulasi mikro muskular dan peningkatan permeabilitas kapiler dapat menyebabkan kebocoran cairan dan hipovolemi sirkulasi. Dalam kasus berat “disseminated vasculitic syndrome” akan menyebabkan kerusakan endotelium kapiler. Gangguan paru adalah meknisme sekunder kerusakan pada alveolar and vaskular interstitial yang mengakibatkan hemoptu. Leptospira juga dapat menginvasi humor akuos mata yang dapat menetap dalam beberapa bulan, seringkali mengakibatkan uveitus kronis dan berulang.

Meskipun kemungkinan dapat terjadi komplikasi yang berat tettapi lebih sering terjadi self limiting disease dan tidak fatal. Sejauh ini, respon imun siostemik dapat mengeliminasi kuman dari tubuh, tetapi dapat memicu reaksi gejala inflamasi yang dapat mengakibatkan “secondary end-organ injury”.

MANIFESTASI KLINIS
Infeksi leptospirosis mempunyai manifestasi yang sangat bervariasi dan kadang asimtomatis, sehingga sering terjadi misdiagnosis. Hampir 15-40% penderita yangb terpapar infeksi tidak mengalami gejala tetapi menunjukkan serologi positif. Masa inkubasi biasanya terjadi sekitar 7-12 hari dengan rentang 2-20 hari. Sekitar 90% penderita dengan manifestasi ikterus ringan sekitar 5-10% dengan ikterus berat yang sering dikenal dengan penyakit Weil.

Perjalanan penyakit leptospira terdiri dari 2 fase yang berbeda, yaitu fase septisemia dan fase imun. Dalam periode peralihan dari 2 fase tersebut selama 1-3 hari kondisi penderita menunjukkan beberapa perbaikkan.

Manifestasi klinis terdiri dari 2 fase yaitu fase awal dan fase ke dua. Fase Awal tahap ini dikenal sebagai fase septicemic atau fase leptospiremic karena organisma bakteri dapat diisolasi dari klutur darah, cairan serebrospinal dan sebagian besar jaringan tubuh. Selama fase awal yang terjadi sekitar 4-7 hari, penderita mengalami gejala nonspesifik seperti flu dengan beberapa variasinya. Karakteristik manifestasi klinis yang terjadi adalah demam, menggigil kedinginan, lemah dan nyeri terutama tulang rusuk, punggung dan perut. Gejala lain adalah sakit tenggorokan, batuk, nyeri dada, muntah darah, ruam, sakit kepala regio frontal, fotofobia, gangguan mental, dan gejala lain dari meningitis.

Fase ke dua sering disebut fase imun atau leptospirurik harena sirkulasi antibodi dapat di deteksi dengan isolasi kuman dari urine dan mungkin tidak dapat didapatkan lagi pada darah atau cairan serebrospinalis. Fase ini terjadi karena akibat respon pertahanan tubuh terhadap infeksi danterjadi pada 0-30 hari atau lebih. Gangguan dapat timbul tergantung manifestasi pada organ tubuh yang timbul seperti gangguan pada selaput otak, hati, mata atau ginjal.

Gejala non spesifik seperti demam dan nyeri otot mungkin sedikit lebih ringan dibandingkan fase awal dan 3 hari sampai beberapa minggu terakhir. Beberapa penderita sekitar 77% mengalami nyeri kepala terus menerus yang tidak respon dengan pemberian analgesik. Gejala ini sering dikaitkan dengan gejala awal meningitis. Delirium juga didaptkan pada tanda awal meningitis, Pada fase yang lebih berat didapatkan gangguan mental berkepanjangan termasuk depresi, kecemasan, psikosis dan dementia.

Gangguan anikterik dapat dijumpai meningitis aseptik adalah sindrom manifestasi klinis yang paling penting didapatkan pada fase anikterik imun. Gejala meningeal terjadi pada 50% penderita. Palsi saraf kranial, ensefalitis, dan perubahan kesadaran jarang didapatkan. Meningitis bisa terjadi apada beberapa hari awal, tapi biasanya terjadi pada minggu pertama dan kedua. Kematian jarang terjadi pada kasus anikterik. Gangguan ikterik : leptospirosis dapat diisolasi dari darah selama 24-48 jam setelah timbul ikterik. Nyeri perut dengan diare dan konstipasi terjadi sekitar 30%, hepatosplenomegali, mual, muntah dan anoreksia.

Uveitis terjadi pada 2-10% kasus dapat terjadi pada awal atau akhir penyakit, bahkan dilaporkan dapat terjadi sangat lambat sekitar 1 tahun setelah gejala awal penyakit timbul. Iridosiklitis and korioretinitis adalah komplikasi lambat yang akanan menetap selama setahun. Gejala pertama akan timbul saat 3 minggu hingga 1 bulan setelah paparan. Perdarahan subkonjuntiva adalah komplikasi pada mata yang sering terjadi pada 92% penderita leptospirosis. Gejala renal seperti azotemia, pyuria, hematuria, proteinuria dan oliguria sering tampak pada 50% penderita. Kuman leptospira juga dapat timbul di ginjal. Manifestasi paru terjadi pada 20-70% penderita. Adenopati, rash, and nyeri otot juga dapat timbul.

Sindroma klinis tidak khas pada berbagai serotipe, tetapi beberapa manifestasi sering tampak pada seerotipe tertentu. Misalnya ikterus didapatkan pada 83% penderita dengan L icterohaemorrhagiae infection and 30% pada L pomona. Rash eritematous pretibial sering didaptkan pada infeksi L autumnalis. Gangguan gastrointestinal pada infeksi dengan L grippotyphosa. Aseptic meningitis seringkali terjadi pada infeksi L pomona atau L canicola.

Sindrom Weil adalah bentuk leptospirosis berat dengan ditandai ikterus, disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru, dan diatesis perdarahan. Kondisi ini terjadi pada akhir fase awal dan meningkat pada fase ke dua, tetapi keadaan bisa memburuk setiap waktu. Kriteria keadaan masuk dalam penyakit Weil tidak dapat didefinisikan dengan baik. Manifestasi paru meliputi batuk, dispnu, nyeri dada, sputum darah, batuk darah, dan gagal napas. Vaskular dan disfungsi ginjal dikaitkan dengan timbulnya ikterus setelah 4-9 hari setelah gejala awal penyakit. Penderita dengan ikterus berat lebih mudah terjadi gagal ginjal, perdarahan dan kolap kardiovaskular. Hepatomegali didapatkan pada kuadran kanan atas. Oliguri atau anuri pada nekrosis tubular akut sering terjadi pada minggu ke dua sehingga terjadi hipovolemi dan menurunya perfusi ginjal. Sering juga didapatkan gagal multi-organ, rhabdomyolysis, sindrom gagal napas, hemolisis, splenomegali, gagal jantung kongestif, miocarditis, dan pericarditis. Sindrom Weil mengakibatkan 5-10%. Sebagian besar kasus berat sindrom dengan gangguan hepatorenal dan ikterus mengakibatkan mortalitas 20-40%. Angka mortalitas juga akan meningkat pada usia lanjut usia.

Leptospirosis dapat terjadi makular atau rash makulopapular, nyeri perut mirip apendisitis akut, pembesaran kelenjar limfoid mirip infeksi mononucleosis. Juga dapat menimbulkan manifestasi aseptic meningitis, encephalitis, atau “fever of unknown origin”. Leptospirosis dapat dicurigai bila didapatkan penderita dengan flulike disease dengan aseptic meningitis atau disproporsi mialgia berat.

Pemeriksaan fisik yang didapatkan pada penderita berbeda tergantung berat ringannya penyakit dan waktu dari onset timbulnya gejala. Tampilan klinis secara umum dengan gejala pada beberapa spektrum mulai dari yang ringan hingga pada keadaan toksis.

Pada fase awal pemeriksaan fisik yang sering didapatkan adalah demam seringkali tinggi sekitar 40oC disertai takikardi. Subkonjuntival suffusion, injeksi faring, splenomegali, hepatomegali, ikterus ringan, mild jaundice, kelemahan otot, limfadenopati dan manifestasi kulit berbentuk makular, makulopapular, eritematus, urticari, atau “rash” perdarahan juga didapatkan pada fase awal penyakit.

Pada fase kedua manifestasi klinis yang ditemukan sesuai organ yang terganggu. Gejala umum yang didaptkan adalah adenopathy, rash, demam, perdarahan, tanda hipovolemia atau syok kardiogenik. Pada pemeriksaan fungsi hati didapatkan ikterus, hepatomegali, tanda koagulopati. Gangguan paru didapatkan batuk, batuk darah, dispneu, dan distres pernapasan. Manifestasi neurologi didapatkan palsi saraf kranial, penurunan kesadaran, delirium atau gangguan mental berkepanjangan seperti depresi, kecemasan, iritabel, psikosis, dan dementia. Pemeriksaan mata terdapat perdarahan subconjuntiva, uveitis, tanda iridosiklitis atau korioretinitis. Gangguan hematologi yang ditemukan adalah peradarahan, petekie, purpura, ekimosis dan splenomegali. Kelainan jantung dijumpai tanda dari kongestif gagal jantung atau perikarditis.

DIAGNOSIS
Pemeriksaan laboratorium digunakan untuk konfirmasi diagnosis dan mengetahui sejauh mana gangguan organ tubuh dan komplikasi yang terjadi.
  • Konfirmasi diagnosis dengan pemeriksaan laboratorium dibedakan 2 cara.
  • Isolation kuman leptospira dari jaringan lunak atau cairan tubuh penderita adalah standard kriteria baku. Urine adalah cairan tubuh yang palih baik untuk diperiksa karena kuman leptospira terdapat dalam urine sejak gejala awal penyakit dan akan menetap hingga minggu ke tiga. Cairan tubuh lainnya yang mengandung leptospira adalah darah, cerebrospinal fluid (CSF) tetapi rentang peluang untuk ditemukan isolasi kuman sangat pendek

  • Jaringan hati, otot, kulit dan mata adalah sumber identifikasi penemuan kuman leptospira. Isolasi leptospira cenderung lebih sulit dan membutuhkan waktu diantaranya dalam hal referensi laboratorium dan mebutuhkan waktu beberapa bulan untuk melengkapi identifikasi tersebut.
  • Spesimen serum akut dan serum konvalesen dapat digunakan untuk konfirmasi diagnosis. Tetapi, konfirmasi diagnosis ini lambat karena serum akut diambil saat 1-2 minggu setelah gejala awal timbul dan serum konvalesen diambil 2 minggu setelah itu. Antibodi antileptospira diperiksa menggunakan microscopic agglutination test (MAT).
  • Metoda laboratorium cepat dapat merupakan diagnosis yang cukup baik. Titer MAT tunggal sebesar 1:800 pada sera atau identifikasi spiroseta pada mikroskopi lapang gelap bila dikaitkan dengan manifestasi klinis yang khas akan cukup bermakna.
PEMERIKSAAN PENUNJANG :
Pada penderita yang dicurigai leptospirosis, selanjutnya harus dilakukan pemeriksaan laboratorium rutin untuk mengetehaui komplikasi dan keterlibatan beberapa organ tubuh. Pemeriksaan complete blood count (CBC) sangat penting. Penurunan hemoglobin yang menurun dapat terjadi pada perdarahan paru dan gastrointestinal. Hitung trombosit untuk mengetahui komponen DIC. Blood urea nitrogen dan serum creatinin dapat meningkat pada anuri atau oliguri tubulointerstitial nefritis yang dapat terjadi pada penyakit Weil.

Peningkatan serum bilirubin dapat terjadi pada obstruksi kapiler di hati. Agak jarang terjadi peningkatan Hepatocellular transaminases dan kurang bermakna, biasanya <200 U/L. Waktu koagulasi akan meningkat pada disfungsi hati atau DIC. Serum creatine kinase (MM fraction) sering meningkat pada gangguan muscular. Analisis CSF bermanfaat hanya untuk melakukan eksklusi penyebab meningitis bakteri. Leptospires dapat diisolasi secara rutin dari CSF, tetapi penemuan ini tidak akan merubah tatalaksana penyakit.

Pemeriksaan pencitraan yang didapatkan adalah kelainan pada foto polos paru berupa air space bilateral. Juga dapat menunjukkan kardiomegali dan edema paru yang didapatkan miokarditis. Perdarahan alveolar dari kapilaritis paru dan “patchy infiltrate multiple” yang dapat ditemukan pada parenkim paru. Ultrasonografi traktus bilier dapat menunjukkan kolesistitis akalkulus.

Pemeriksaan histologis beberapa saat setelah inokulasi dan selama periode inkubasi leptospira melakukan replikasi aktif di hati. Perwarnaan silver staining dan immunofluorescence dapat mengidentifikasi leptospira di hati, limpa, ginjal, CNS dan otot. Selama fase akut pemeriksaan histologi menunjukkan organisma tanpa banyak infiltrat inflamasi.

DIAGNOSIS BANDING
  1. Dengue Fever
  2. Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome
  3. Hepatitis
  4. Malaria
  5. Meningitis
  6. Mononucleosis, influenza
  7. Enteric fever
  8. Rickettsial disease
  9. Encephalitis
  10. Primary HIV infection
TATALAKSANA
Terapi antimikrobial adalah pengobatan yanhg utama pada leptospirosis. Pada infeksi tidak dengan komplikasi tidak membutuhkan rawat inap. Penggunaan doksisiklin oral menunjukkan penurunan durasi demam. Rawat inap diperlukan untuk penderita dengan pemberian terapi penicillin G intravena sebagai pilihan utama. Penelitian terakhir menunjukkan cephalosporins sama efektifnya dengan doksisiklin dan penicillin pada pengobatan fase akut. Erythromycin digunakan pada kasus kehamilan yang alergi terhadap penicillin sedangkan amoxicillin adalah terapi alternatif.

Pada kasus berat mengakibatkan gangguan beberapa organ dan gagal multiorgan. In addition to antimicrobials, therapy is supportive. Tatalaksana penderita yang paling penting adalah memonitor dengan cermat perubahan klinis karena berpotensi terjadi gangguan kolap kardiovaskular dan syok dapat terjadi secara cepat dan mendadak. Fungsi ginjal harus dievaluasi secara cermat dan diperlukan dialisis pada kasus gagal ginjal. Pada umumnya kerusakan ginjal adalah reversibel jika penderita dapat bertahan dalam fase akut. Penyediaan ventilasi mekanik dan proteksi jalan napas harus tersedia bila terjadi gangguan pernapasan berat. Continuous cardiac monitoring untuk memantau keadaan yang dapat timbul seperti ventricular tachycardia, kontaksi ventrikel prematur premature ventricular contractions, fibrilasi atrial, flutter, dan takikardia.

PENCEGAHAN :
Menghindari atau mengurangi kontak dengan binatang yang berpotensi terkena paparan air atau lahan yang dicemari kuman. Orang yang beresiko tinggi infeksi harus memakai sarung tangan, baju dan kacamata pelindung. Harus memperhatikan secara ketat higiena sanitasi lingkungan seperti kontrol binatang pengerat seperti tikus, dekontaminasi infeksi Penggunaan vaksinasi pada hewan dan manusia masih kontroversi. Kemoprofilaksis menunjukkan hasuil yang efektif pada manusia dengan resiko tinggi seperti anggota militer atau wisatawan yang berkunjung di daerah endemik. Pemberian doksisiklin 250 mg peroral sekali seminggu, menunjukkan efikasi yang sangat baik. Tetapi pencegahan ini yidak dianjurkan untuk jangka panjang.

KOMPLIKASI DAN PROGNOSIS
Komplikasi tergantung dari perjalanan penyakit dan pengobatanmya. Prognosis penderita dengan infeksi ringan sangat baik tetapi kasus yang lebih berat seringkali lebih buruk.

DAFTAR PUSTAKA
  • Aston JM, Broom JC: Leptospirosis in Man and Animals. Edinburgh and London: Livingstone; 1958. Bajani MD, Ashford DA, Bragg SL, et al: Evaluation of four commercially available rapid serologic tests for diagnosis of leptospirosis. J Clin Microbiol 2003 Feb; 41(2): 803-9.
  • Boyer AS, Runyan RB: TGFbeta Type III and TGFbeta Type II receptors have distinct activities during epithelial-mesenchymal cell transformation in the embryonic heart. Dev Dyn 2001 Aug; 221(4): 454-9
    Cacciapuoti B, Ciceroni L, Maffei C: A waterborne outbreak of leptospirosis. Am J Epidemiol 1987 Sep; 126(3): 535-45.
    Carvalho CR, Bethlem EP: Pulmonary complications of leptospirosis. Clin Chest Med 2002 Jun; 23(2): 469-78.
    CDC: Outbreak of leptospirosis among white-water rafters - Costa Rica occupational infections. MMWR 1997; 46(25): 77-578.
    CDC: From the Centers for Disease Control and Prevention. Update: outbreak of acute febrile illness among athletes participating in Eco-Challenge-Sabah 2000--Borneo, Malaysia, 2000. JAMA 2001 Feb 14; 285(6): 728-30.
    Chu KM, Rathinam R, Namperumalsamy P: Identification of Leptospira species in the pathogenesis of uveitis and determination of clinical ocular characteristics in south India. J Infect Dis 1998 May; 177(5): 1314-21.
    Cohen R, LaDou J, eds: Occupational Infections. In: Occupational Environmental Medicine. Connecticut: Appleton & Lange; 1997.
    Cole DJ, Hill VR, Humenik FJ: Health, safety, and environmental concerns of farm animal waste. Occup Med 1999 Apr-Jun; 14(2): 423-48.
    Corwin A, Ryan A, Bloys W: A waterborne outbreak of leptospirosis among United States military personnel in Okinawa, Japan. Int J Epidemiol 1990 Sep; 19(3): 743-8. De Serres G, Levesque B, Higgins R: Need for vaccination of sewer workers against leptospirosis and hepatitis A. Occup Environ Med 1995 Aug; 52(8): 505-7.
  • Doudier B, Garcia S, Quennee V: Prognostic factors associated with severe leptospirosis. Clin Microbiol Infect 2006 Apr; 12(4): 299-300.
    Edwards GA, Domm BM: Human leptospirosis. Medicine (Baltimore) 1960 Feb; 39: 117-56.
    Faine S: In: Leptospira and Leptospirosis . Boca Raton: CRC Press Inc; 1994. Farrar WE, Mandel GL, Bennett JE, Dolin R, eds: Leptospira species (leptospirosis). In: Principles and Practice of Infectious Diseases. New York: Churchill Livingstone; 1995: 2137-41.
    Feigin RD, Anderson DC: Human leptospirosis. CRC Crit Rev Clin Lab Sci 1975 Mar; 5(4): 413-67.
    Freedman DO, Woodall J: Emerging infectious diseases and risk to the traveler. Med Clin North Am 1999 Jul; 83(4): 865-83, v.
  • Farr RW: Leptospirosis. Clin Infect Dis 1995 Jul; 21(1): 1-6; quiz 7-8.

  • Guidugli F, Castro AA, Atallah AN: Antibiotics for preventing leptospirosis. Cochrane database of systematic reviews. The Cochrane Library 2004; 2.
    Im JG, Yeon KM, Han MC, et al: Leptospirosis of the lung: radiographic findings in 58 patients. AJR Am J Roentgenol 1989 May; 152(5): 955-9.
    Inada R, Ido Y, et al: Etiology, mode of infection and specific therapy of Weil's disease. J Exp Med 1916; 23: 377-402.
    Kaufman AF, Wenger JD, Last JM, Wallace RB, eds: Leptospirosis. In: Maxcy-Rosenau-Last Public Health and Preventive Medicine. 13th ed. Norwalk, Connecticut; 1992: 264-265.
  • Masuzawa T, Okamoto Y, Une Y: Leptospirosis in squirrels imported from United States to Japan. Emerg Infect Dis [serial on the Internet] 2006.
  • Moore GE, Guptill LF, Glickman NW: Canine leptospirosis, United States, 2002-2004. Emerg Infect Dis 2006 Mar; 12(3): 501-3.
  • O'Neil KM, Rickman LS, Lazarus AA: Pulmonary manifestations of leptospirosis. Rev Infect Dis 1991 Jul-Aug; 13(4): 705-9.
  • Speelman P: Leptospirosis. In: Harrison's Principle of Internal Medicine. 14th ed. New York, NY: McGraw-Hill, Inc; 1036-38.
  • Tappero J, Ashford D, Perkins N: Leptospira species (Leptospirosis). In: Mandell, Douglas, and Bennett's Principles and Practice of Infectious Diseases. Philadelphia, Pa: Churchill Livingstone; 2000:2495-2500.

    Sitprija V, Losuwanrak K, Kanjanabuch T: Leptospiral nephropathy. Semin Nephrol 2003 Jan; 23(1): 42-8.
    Skilbeck NW, Miller GT, ALIA: A serological survey of leptospirosis in Gippsland dairy farmers. Med J Aust 1986 May 26; 144(11): 565-7.
    Speelman P, Fauci AS, Brainwald E, eds: Leptospirosis. In: Harrison's Principles of Internal Medicine. 14th ed. 1998: 756.
    Takafuji ET, Kirkpatrick JW, Miller RN, et al.: Agricultural Occupational Medicine: An Efficacy Trial of Doxycycline Chemoprophylaxis against Leptospirosis. In: Occupational Medicine. St Louis, Missouri: Mosby; 1984: 310, 497-500, 894-5.
    Tappero J, Ashford D, Perkins B: Leptospirosis. In: Principles and Practice of Infectious Disease. 5th ed. New York: Churchill Livingstone; 1998.
    Vinetz JM, Glass GE, Flexner CE: Sporadic urban leptospirosis. Ann Intern Med 1996 Nov 15; 125(10): 794-8.
    Yang CW, Wu MS, Pan MJ: Leptospirosis renal disease. Nephrol Dial Transplant 2001; 16 Suppl 5: 73-7

Minuman soda mengandung banyak benzene, suatu zat karsinogenik

The US Food dan Drug Administration (FDA) beberapa waktu lalu mengatakan bahwa beberapa minuman bersoda dan minuman ringan lainnya di US mengandung zat karsinogenik benzene yang kadarnya tinggi.

Dari 100 contoh minuman bersoda dan minuman ringan yang diteliti, ditemukan 5 jenis minuman yang mengandung kadar benzene melebihi standart yang ditetapkan yaitu 5 ppb (part per bilion). Pada lima jenis minuman tersebut kadar benzene yang ditemukan mencapai hingga 79 ppb.

Benzene adalah suatu bahan kimia yang dapat menjadi pemicu terjadinya leukemia. Pada minuman tersebut dapat ditemukan dua jenis kandungan yaitu vitamin C yang disebut asam askorbat dan dua zat pengawet: sodium benzoate dan potassium benzoate.

Kemungkinan saat itu kandungan benzene tidak ditemukan, namun para ahli mengatakan bahwa faktor terpaparnya udara panas dan sinar dapat memicu terbentuknya benzene pada minuman tersebut.

Tes yang dilakukan FDA terhadap berbagai jenis minuman bersoda menunjukkan bahwa kandungan benzene yang terdapat pada minuman jus atau minuman soda memiliki problem kesehatan yang serius, dikatakan Richard Wiles, senior vice president pada Enviromental Working Group.

FDA dianjurkan untuk terus melakukan penelitian tentang bagaimana terbentuknya bezene, termasuk faktor panas yang merupakan penyebabnya, serta cara penyimpanan yang benar sehigga minuman tersebut tetap terjaga keamanannya. |
Sumber: Kalbe.co.id

Ancaman dibalik batuk

Batuk tidak selamanya jahat. Batuk bisa muncul sebagai reaksi mengusir benda asing yang mampir ke tenggorokan. Namun bila batuk tak kunjung sembuh dan mengganggu, Anda perlu waspada. Bisa jadi ada infeksi di saluran pernapasan, radang paru-paru bahkan TBC.

TBC? Mana mungkin dok.. di keluarga saya tidak ada riwayat sakit TBC. Lingkungan sekitar saya juga bersih. Apa ini bukan batuk biasa saja?” ungkapan bernada penyesalan dan setengah tidak percaya seringkali muncul dari pasien, saat diberi tahu dokter bahwa ia menderita Tuberculosis atau TBC. Selama ini masyarakat masih menganggap TBC sebagai penyakit turunan dan hanya menimpa kalangan yang secara ekonomi kurang mampu. Anggapan yang sangat keliru. .

Padahal, seperti dikemukakan spesialis paru-paru Dr. Priyanti Zuswayudha, FCCP dari Rumah Sakit Persahabatan, bila dilakukan test tuberculin untuk mengetahui keberadaan kuman Mycobacterium tuberculosis, penyebab TBC, bisa jadi hampir seluruh penduduk negeri ini sudah terinfeksi. Sebenarnya tidak terlalu mengherankan bila melihat peringkat Negara kita yang saat ini menempati urutan ketiga di dunia dalam jumlah penderita TBC. Mereka yang menderita TBC baik yang mengaku maupun tidak, yang sadar dirinya TBC atau tidak, berkeliaran dimana-mana, termasuk di lingkungan orang-orang gedongan. Ini yang menjadi salah kaprah. TBC dianggap penyakit turunan dan hanya menimpa kalangan bawah. TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman. Meski tidak ada anggota keluarga yang terkena bukan berarti kita bebas TBC. Siapa tahu kita tertular dari tetangga atau orang di bus bahkan di kantor, apalagi yang ber-AC. Bisa saja salah satu rekan kita terkena tetapi tidak bilang,” jelas Priyanti. .

Namun meski hasil tes positif, tidak lantas semua orang bisa sakit TBC, tergantung daya tahan tubuh, keganasan kuman, jumlah kuman dan tentu saja lingkungannya. “Seperti saya dan dokter spesialis paru-paru lainnya sudah pasti telah terpapar kuman tersebut tetapi tidak sampai menjadi disease, karena kita yakin daya tahan tubuh kita kuat,” jelas prijanti yang ayahnya juga dokter paru namun sampai meninggal di usia 75 tahun belum pernah terkena sakit paru. .

Apakah penderita TBC selalu harus memiliki fisik yang kurus? Tidak juga. Penderita diabetes atau kencing manis, yang biasanya memiliki badan yang subur, adalah salah satu yang harus berhati-hati terhadap ancaman kuman TBC. Kenapa? Kadar gula penderita diabetes tinggi, sehingga memudahkan daya tahan tubuh berkurang. Daya tahan tubuh yang lemah tentu saja memudahkan aneka kuman masuk ke tubuh, termasuk TBC. “Pasien saya langsung nangis karena malu kalau dibilangin TBC. Padahal TBC lebih mudah disembuhkan, hanya 6 bulan dibandingkan kencing manis yang seumur hidup, tidak bisa disembuhkan,” kata Priyanti. .

Meski banyak pasien yang marah kalau dibilang TBC, para dokter sebaiknya selalu jujur pada pasien. Bila pasien mengetahui penyakitnya, dia akan lebih berhati-hati dan tidak menularkan penyakitnya ke orang lain. Selain itu penangannya juga akan lebih optimal. TBC bisa disembuhkan dengan mengkonsumsi obat tanpa putus selama 6 bulan. Obat yang diberikan selama ini adalah Rifampisin, INH, Ethambutol dan Pirazinamid. Kadang-kadang juga jenis Streptomisin. Namun kecenderungan sekarang ini, banyak pasien yang sebenarnya terkena TBC tetapi saat berobat ke dokter dibilang flek. Padahal secara medis, menurut Priyanti, tidak ada istilah flek. Ketidakjujuran tentu saja berakibat pada pasien sendiri. Karena tidak tahu dirinya mengidap TBC, maka pasien bisa menghentikan pengobatan setelah gejala batuknya hilang dan badannya segar kembali. “Bisa jadi pasien hanya mengkonsumsi obat selama 2 bulan, tidak 6 bulan sebagaimana mestinya penderita TBC,” ujarnya. .

Berawal Dari Batuk
TBC hanyalah satu penyakit yang ditandai dengan batuk yang membandel. Banyak penyakit saluran pernapasan dan paru-paru di awali dengan batuk. Itulah mengapa perlunya waspada jika mengalami batuk lebih dari tiga minggu namun tidak kunjung sembuh, lebih-lebih di musim kemarau seperti saat ini. Batuk, sebenarnya merupakan bagian dari kegiatan ekspirasi saat bernapas. Seperti kita tahu, rangkaian proses bernapas itu terdiri dari inspirasi (memasukkan udara) dan ekspirasi (mengeluarkan udara). Batuk sama saja proses mengeluarkan udara, hanya saja tekanannya lebih besar. Batuk bisa terjadi akibat rangsangan. Dalam tubuh manusia banyak terdapat resetor batuk yang tersebar di sepanjang saluran pernapasan seperti laring, trakea, karina (percabangan paru) dan sebagainya. Bila reseptor itu dirangsang oleh benda asing, misalnya debu, kuman, asap rokok atau bahkan persoalan psikis, maka ada syaraf khusus yang meneruskan rangsangan tadi ke pusat batuk di otak (medulla oblumata). Dari pusat batuk kemudian diteruskan lagi oleh syaraf ke otot-otot pernapasan inilah yang membuka pita suara dan mengeluarkan bunyi batuk. Semuanya terjadi dalam hitungan detik. “Sewaktu udara masuk, pita suara tertutup sehingga udara itu tidak bisa keluar lagi dan mengakibatkan tekanan dalam paru-parunya besar. Sehingga orang memaksakan mengeluarkan udara tersebut dengan menekan menjadi batuk,” jelas Priyanti. .

Batuk tidak selamanya mengindikasikan suatu penyakit. Ada batuk yang dikatakan normal, sebagai mekanisme pertahanan tubuh. Batuk jenis ini berfungsi untuk mencegah atau mengeluarkan makanan atau benda yang menghambat kerongkongan. Batuk juga bisa berfungsi untuk mencegah atau mengeluarkan benda asing yang masuk ke saluran pernapasan. Dalam keadaan normal, orang yang tidak bisa batuk malah sengsara. Misalnya dalam konsisi keseleg, batuk akan mengeluarkan makanan atau benda yang menghambat kerongkongan. Batuk juga bisa berfungsi untuk mengembelikan irama jantung pada penderita kelainan jantung. Pada suatu saat iram jantung tidak beraturan, dengan batuk bisa kembali normal. Yang perlu diinget, adalah jika batuk sudah berlebihan dan mengganggu, sangat mungkin mengindikasikan suatu penyakit. Yang paling sering, batuk mengindikasikan adanya infeksi saluran napas, entah itu saluran napas bagian atas maupun bawah. Infeksi saluran napas atas misalnya radang tenggorokan dan flu. Sedangkan infeksi saluran nafas bawah misalnya TBC, asma atau radang paru-paru seperti SARS dan pneumonia. Batuk pada penyakit-penyakit tersebut disebabkan oleh kuman yang merangsang reseptor batuk. .

Berdasarkan lamanya, batuk dibagi menjadi batuk akut dan batuk kronik. Disebut akut bila batuk berlangsung kurang dari 3 minggu, dan apabila lebih dari 3 minggu disebut batu kronik. TBC, bronhektasis (pelebaran bronchus) adalah salah satu contoh batuk kronik. SARS, pneumonia, asma dan batuk karena flu termasuk batuk akut. .

Penanganan batuk ternyata gampang-gampang susah. Untuk menangani batuk, kita harus tahu persis penyebabnya apa. Jangan diberi obat batuk sembarangan. “Misalnya TBC, biar dikasih obat batuk sampai 3 liter kalau TBC-nya tidak diobati sebulan sampai dua bulan, kumannya berkurang. Pengobatan yang dianjurkan selama 6-9 bulan. Jadi dnegan pengobatan yang tepat, tanpa diberi obat batuk, batuknya dengan sendirinya akan hilang,”jelas Priyanti. .

Pemberian obat juga bisa dilihat dari jenis batuknya. Batuk yang disertai dahakharus diberi obat yang mengandung ekspektorant. Tetapi kalau batuknya kering, tidak ada dahak, maka cukup diobati dengan obat penekan batuk. Dahak sendiri timbul karena adanya infeksi, kecuali pada asma. Pada penderita asma, dahak terjadi karena mekanisme penyakitnya, yaitu karena hipersekresi, kelenjar yang berlebihan. .

Khusus batuk kering, atau yang sering disebut rejan atau batuk 100 hari (karena tidak kunjung sembuh), menurut Priyanti, memang sulit disembuhkan. Penyakit dengan gejala batuk bertubi-tubi diakhiri suara lengkingan yang membuat penderita sulit bernapas ini disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis. Bakteri ini mengganggu system pernapasan, yaitu hidung, tenggorokan, trachea, dan paru. Selain sangat menular, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi serius bahkan mematikan, terutama pada bayi. Akibat batuk berulang bisa terjadi henti napas (apnea). Sel-sel tubuh termasuk otak bisa kekurangan oksigen sehingga terjadi kejang, perdarahan, maupun kerusakan otak. Infeksi bakteri juga bisa menyebar ke telinga dan paru (pneumonia). Jika terdeteksi sejak dini, pemberian antibiotic cukup efektif mengatasi. Pemberian obat batuk justru tidak disarankan. .

Harus di-Rontgen
Pada penderita batuk, pemeriksaan secara fisik kadang tdak menunjukkan adanya kuman. Yang jelas, bila batuk telah lewat 3 minggu dan tidak kunjung sembuh, pasien sebaiknya segera melakukan roentgen untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit di paru-paru. Memang yang terbaik untuk melihat diagnosis pasti adalah kalau ditemukan kuman dalam dahak penderita. Tetapi kadang-kadang untuk menemukan kuman di dahak cukup sulit. “Untuk TBC misalnya, harus ada 5000 kuman per cc baru kumannya terlihat,” kata Priyanti. Oleh karena itu tindakan awal yang paling efektif adalah roentgen. .

Tetapi pada anak-anak sulit dilakukan roentgen sehingga yang terbaik dilakukan tindakan pencegahan atau melakukan tes tuberculin untuk penyakit TBC. Penyakit ini memang mudah menular pada anak kecil. Penelitian yang dilakukan pada 150 pasangan suami istri yang serumah menunjukkan hanya 5 yang tertular TBC dari pasangannya. Dari 5 tersebut 3 diantaranya sudah sakit sejak sebelum menikah. Sedangkan yang 2 orang hanya terkena TBC ringan. “ini menunjukkan bahwa kalau daya tahan tubuh kuat, TBC tidak mudah menular.” .

Anak-anak di bawah 10 tahun masih sangat rentan tertular penyakit. Oleh karena itu kalau dirumah ada salah satu orang dewasa yang sedang batuk, mengindikasikan penyakit apa saja, maka anak harus segera diperiksa. .

Tindakan preventif agar tidak tertular adalah menjaga daya tahan tubuh sebaik mungkin dan menjaga kebersihan lingkungan. Bagi yang sudah terkena penyakit, hendaknya tidak membuang dahak sembarangan. Ironisnya, bagi penderita, semakin banyak dahak yang dikeluarkan akan lebih cepat sembuh karena semakin banyak kuman yang dikeluarkan. Kalaupun harus mengeluarkan dahak sebaiknya ditempat sampah, tutuplah dengan tissue atau sapu tangan saat batuk. ana/An